Ligatku6.online - Di sebuah Tempat, jalan utamanya sudah lama tak mulus.Kalau hujan, air menggenang.Kalau panas, debu beterbangan.Warga sering bertanya, pelan-pelan saja,
“Pak, kapan jalannya diperbaiki?”Jawabannya selalu sama:“Anggaran masih terbatas.”
Warga pun mencoba mengerti.Namanya juga keterbatasan, pasti ada prioritas.Namun di sela-sela itu, kok kabupaten nya terasa makin ramai.
Ada pelatihan, ada workshop, ada sosialisasi.Kegiatannya rapi, dokumentasinya lengkap, pesertanya tersenyum.Manfaatnya? Mungkin ada, meski tak selalu terasa di jalan yang dilalui setiap hari.
Uwak Iyeng, yang tiap pagi melewati kubangan yang sama, sempat bertanya dalam hati:“Kalau sebagian kecil anggaran kegiatan ini dialihkan ke jalan,meski tak sempurna, bukankah hasilnya bisa langsung terlihat?”Bukan untuk menyalahkan, apalagi mencurigai.Hanya sekadar berpikir sederhana, dengan cara orang kampung.
Sebab bagi warga, pembangunan itu bukan soal istilah,tapi soal langkah kaki yang tak lagi ragu saat melintas.Tentang rapat-rapat dan sidang anggaran,mungkin sudah dibahas dengan serius.
Hanya saja, dari kejauhan, jalan berlubang itumasih setia menjadi saksi bahwa keterbatasan kadang terasa lebih nyata di lapangan dibanding di atas meja.
