Way Kanan , Ligatku6.online– Pasca viralnya peristiwa truk pengangkut hewan babi yang terguling di jalan penghubung Kecamatan Banjit dan Baradatu, Pemerintah Kabupaten Way Kanan bersama unsur TNI, Polri, aparatur kampung, dan masyarakat menggelar kegiatan gotong royong di lokasi kejadian, tepatnya di Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Selasa (23/06/2026).
Langkah gotong royong tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan dalam merespons kondisi di lapangan. Namun, di balik semangat kebersamaan itu, terdapat persoalan yang lebih besar dan mendasar, yakni kondisi infrastruktur jalan yang telah lama dikeluhkan masyarakat.
Viralnya video babi yang berkeliaran dan bermain di kubangan jalan berlubang usai kecelakaan truk seakan menjadi cermin nyata buruknya kondisi jalan di wilayah tersebut. Ironisnya, perhatian luas justru muncul setelah peristiwa tersebut menjadi konsumsi publik di media sosial.
Persoalan jalan rusak bukanlah masalah baru. Menurutnya, masyarakat sudah berkali-kali menyampaikan aspirasi melalui berbagai forum resmi, termasuk Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), namun hingga kini belum terlihat adanya solusi yang signifikan.
Kondisi jalan ini sudah bertahun-tahun. Bahkan sudah kami usulkan melalui Musrenbang Kecamatan, tetapi hasilnya masih nihil. Masyarakat tidak hanya membutuhkan janji, tetapi tindakan nyata agar akses jalan ini segera diperbaiki.
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan sekaligus kekecewaan masyarakat terhadap lambannya penanganan infrastruktur. Terlepas dari status kewenangan jalan, baik kabupaten maupun provinsi, masyarakat tentu tidak terlalu mempersoalkan siapa yang bertanggung jawab. Yang mereka inginkan adalah jalan yang layak, aman, dan dapat menunjang aktivitas ekonomi maupun sosial sehari-hari.
Peristiwa truk terguling ini seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya menjadi agenda administratif semata, tetapi harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama sebelum muncul korban yang lebih besar di kemudian hari.
Gotong royong yang dilakukan pemerintah bersama TNI, Polri, dan masyarakat memang menjadi langkah positif dalam penanganan sementara. Namun masyarakat berharap langkah tersebut tidak berhenti sebagai respons sesaat akibat viralnya sebuah kejadian, melainkan menjadi awal dari komitmen nyata untuk memperbaiki infrastruktur jalan secara menyeluruh.
Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan jalan rusak yang viral agar mendapat perhatian. Mereka membutuhkan pemerintah yang mampu mendengar, merespons, dan menghadirkan solusi sebelum masalah berubah menjadi musibah. Karena jalan yang baik bukan sekadar sarana transportasi, melainkan wujud nyata kehadiran pemerintah dalam melayani rakyatnya.(Red)
