Way Kanan , Ligatku6.online– Pagi itu, suasana di Kampung yang ada di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, terlihat seperti biasa. Orang Tua Balita antri menunggu jatah MBG untuk tiga hari kedepan.
Di tangan mereka, bukan lagi bekal dari rumah, melainkan harapan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini rutin hadir Dusun Mereka.
Program ini sejatinya lahir dari niat baik: memastikan setiap anak mendapatkan asupan gizi yang cukup, tanpa terkecuali.
Lebih dari itu, MBG juga dirancang untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat kecil. Pemerintah membayangkan sebuah siklus yang saling menguatkan—anak-anak sehat, UMKM tumbuh, ekonomi desa bergerak.
Namun di balik niat mulia itu, sejumlah wali murid mulai bertanya-tanya.
Seorang ibu, yang enggan disebutkan namanya, bercerita bahwa menu yang kurang bervariasi. Ada pula yang mempertanyakan dengan kemasan 10 - 15 rb tapi di lapangan tak sesuai .
“Kami mendukung program ini, tapi tolong benar-benar diawasi kualitasnya. Ini untuk anak-anak,” ujarnya pelan.
Harapan masyarakat sebenarnya sederhana: makanan yang layak, bergizi, dan higienis.
Di atas kertas, tujuan MBG begitu besar. Program ini diharapkan menciptakan multiplier effect bagi perekonomian lokal. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan Menyerap pelaku UMKM sekitar.
Dengan begitu, bukan hanya siswa dan Balita yang merasakan manfaat, tetapi juga pedagang kecil di kampung-kampung.
Targetnya pun tidak main-main—jutaan tenaga kerja terserap di dapur-dapur komunitas, UMKM mendapatkan pasar tetap, bahkan membuka peluang usaha baru. Banyak perempuan yang dilibatkan dalam pengolahan makanan, membantu menopang ekonomi keluarga mereka.
Itulah gambaran idealnya.
Namun, sebagaimana program besar lainnya, pelaksanaan di lapangan kerap menghadapi tantangan. Koordinasi, pengawasan, hingga standar mutu menjadi kunci agar niat baik tidak berubah menjadi kekecewaan.
Suara orang tua bukanlah bentuk penolakan, melainkan bentuk kepedulian. Mereka ingin program ini berhasil. Mereka ingin anak-anak tumbuh sehat. Mereka ingin UMKM benar-benar merasakan dampaknya.
Kini, yang dibutuhkan adalah evaluasi menyeluruh dan keterbukaan dari pihak pengelola. Sebab sebuah program bukan hanya soal perencanaan, tetapi juga konsistensi dalam pelaksanaan.
Jika pengawasan diperketat dan kualitas dijaga, MBG bukan hanya sekadar program makan gratis. Ia bisa menjadi fondasi masa depan—di mana anak-anak Way Kanan tumbuh kuat, dan ekonomi kampung berdiri lebih kokoh.(Red)
